Jika dilihat dari bentuknya buku itu terlihat sangat sederhana dan lusuh. Aku yakin sang pemilik selalu membawanya kemanapun ia pergi. Meskipun wujudnya lusuh dan lecek, isinya ternyata kisah-kisah tulus yang luar biasa. Sungguh seperti cermin indah diriku.
Malaikat kecil itu muridku di kelas 5 sekolah dasar. Dia sangat baik, pintar, sedikit pendiam dan suka menulis. Tapi aku tidak pernah menyangka ia akan menulis sebuah buku untukku. Buku itu dia tulis selama hampir 2 tahun, bercerita tentang semua aktivitas dikekolah, teman-teman, guru dan perasaannya. Dia menulis semua dengan bahasa yang indah dan detil, bahkan hari dan tanggal kejadiannya. Dia berniat menjadikan buku itu hadiah akhir tahun untukku dan partner guruku.
Dia memberikan buku itu menjelang hari kenaikan kelas.
Dari lembar pertama yang kubaca aku mulai menangis. Satu hal yang membuatku sangat terharu. Dia mengganti namaku dan partnerku dengan “MALAIKATKU” disemua kisah yang ia tulis.
Lembar partama buku itu tertulis : “Aku senang sekali berada di kelas 5. Terimakasih Allah Engkau memberiku 2 malaikat cantik yang selalu tersenyum untukku dan mengajariku banyak hal. Tolong lindungi dan sayangi mereka Ya Allah”
Aku membaca isi buku itu tanpa ada yang terlewatkan. Masih dengan butiran-butiran lembut yang mengalir dari mataku. Walaupun ia tak berharap balasan. Tapi aku ingin sekali membalasnya, walau tidak sebanding dengan apa yang ia berikan selama ini.
Lalu aku menulis sebuah surat untuknya:
“Wahai malaikat kecilku…
Aku mungkin tidak sehebat dan sempurna seperti malaikat impianmu. Karena
Aku hanya punya dua mata, yang dapat menatapmu hangat
Aku cuma punya satu mulut, yang hanya bisa tersenyum untukmu
Aku hanya punya dua telinga, yang sanggup mendengarkan kisah-kisahmu
Aku juga punya dua tangan kecil, yang dapat merengkuhmu kapanpun kau mau
Dan aku punya satu hati, yang menyimpanmu disudutnya yang dalam dan hangat.
Malaikat kecilku….
Terimakasih atas perhatianmu selama ini. Aku yakin suatu hari nanti kau akan jadi malaikat bagi orang-orang disekelilingmu. Kepakkan sayapmu setinggi yang kau mau. Tak perlu khawatir kau kesepian, karna hamparan bintang-bintang akan selalu menemanimu di tiap langit cakrawala”.
Keesokan harinya ia datang padaku. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata : “terimakasih ya bu, suratnya indaaah banget”. Aku menarik tubuh mungil itu dalam pelukanku : “sama-sama, tapi buku yang kamu tulis jauuh lebih indah. Terus menulis ya…”.
Artikel Populer
-
Oleh : Riwayat Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, jangan...
-
Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , keluarga, dan sahabatnya. Anda tela...
-
“Tiba-tiba lelaki yang ku kenal baik berubah menjadi buas, aku pun tak berdaya untuk melawan dan… akhirnya kesucianku terenggut.!!!” Beg...
-
Pakde saya paling tidak suka Jakarta. Panas, sumpek dan jalanannya yang selalu macet. Itu alasannya. Suatu ketika, ia terheran-heran meli...
-
Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasu...
-
Walai rinduku merintih,, kecintaan. Duduk termenung hanya bIngung,, kerinduan. Walaupun jauh dari nyata kasih dan sayang. Telah lama k...
-
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan h...
-
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematia...
-
Pacaran dilarang dan diharamkan dalam Islam. Cukuplah firman-firman Allah berikut ini yang menunjukkan akan keharamannya: “Dan janganlah...
-
Oleh : Soleh Amini Yaman Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belaj...





Posting Komentar